Natal di Kampung Halaman dan Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang
Usiaku saat ini 21 tahun, tidak terasa 14 tahun telah berlalu sejak aku duduk dibangku SD kelas 2. Natal merupakan saat – saat yang sangat indah bagi kami. Baju baru, kue – kue, sirup, kembang api, lagu gereja, dan teman – teman membuat hari – hari itu penuh dengan sukacita.
Ikut menyanyi dalam vokal grup di gereja kecil kami sangat menyenangkan. Kami telah berlatih selama beberapa minggu dan puncaknya adalah pada malam natal sekolah minggu. Yang hadir tentu saja para orang tua, segenap anak sekolah minggu, dan jemaat. Meski saat itu vokal grup kami hanya diiringi oleh gitar sebagai alat musiknya, kami sangat bergembira.
Kami juga bermain drama, “Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang” merupakan pengalaman drama pertama bagiku. Walaupun pada saat itu aku hanya berperan sebagai teman foya – foya si anak bungsu, dan salah satu dari pekerja sang bapa, aku sangat bersemangat.
Pemeran inti dari drama tersebut terdiri dari beberapa anak SMP. Dan kami menjadi figuran
. Kami berfoya – foya dengan kacang Garuda dan adikku yang masih TK sedikit rewel karena tidak kebagian kacang. Drama itu sukses dan ditutup dengan nyanyian. Masa – masa yang manis ternyata banyak aku rasakan saat kanak – kanak.




